BerandaRumah SubsidiRumah Subsidi vs Komersil: Ini Bedanya yang Wajib Dipahami

Rumah Subsidi vs Komersil: Ini Bedanya yang Wajib Dipahami

Rumah subsidi dan rumah komersil memiliki perbedaan dari sisi harga, segmen pembeli, tipe bangunan, cicilan, bunga, lokasi, hingga aturan renovasi. Perbedaan tersebut penting dipahami sebelum calon pembeli menentukan pilihan.

Rumah subsidi ditujukan untuk masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu dalam program pembiayaan perumahan pemerintah. Sementara itu, rumah komersil menyasar masyarakat yang dinilai mampu membeli rumah sesuai kemampuan penghasilannya.

Lantas, mana yang lebih menguntungkan? Jawabannya bergantung pada kondisi keuangan dan kebutuhan masing-masing calon pembeli.

1. Segmen Pembeli Berbeda

Rumah subsidi merupakan bagian dari program pemerintah untuk masyarakat berpenghasilan rendah, lansia, atau penyandang disabilitas yang memenuhi persyaratan. Salah satu bentuk pembiayaannya dikenal sebagai Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi.

Sementara itu, rumah komersil diperuntukkan bagi masyarakat yang dianggap mampu mengambil kredit rumah sesuai dengan penghasilannya.

2. Harga Mengikuti Ketentuan Berbeda

Harga rumah subsidi mengikuti zona dan harga yang ditetapkan pemerintah. Karena itu, harga rumah subsidi tidak ditentukan sepenuhnya oleh pengembang.

Pada rumah komersil, harga dapat dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya lokasi. Rumah yang berada di kawasan strategis cenderung memiliki harga lebih tinggi.

3. Pilihan Tipe Rumah

Rumah subsidi memiliki batasan tipe. Berdasarkan bahan tersebut, tipe rumah subsidi maksimal berada pada ukuran 36/60.

Rumah komersil memiliki pilihan tipe yang lebih beragam. Calon pembeli dapat menemukan rumah dengan berbagai ukuran dan spesifikasi, mulai dari rumah biasa hingga rumah dengan kualitas premium.

4. Skema Cicilan Tidak Sama

Rumah subsidi memiliki skema cicilan yang berbeda dengan rumah komersil.

Pada pembiayaan FLPP, bunga cicilan rumah subsidi sebesar 5 persen dan bersifat flat sampai lunas. Sementara itu, pembiayaan melalui Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) menggunakan skema yang berbeda, dengan bunga mengikuti surat utang negara (SUN) 10 tahun ditambah margin program BP2BT.

Rumah komersil menggunakan cicilan yang mengikuti suku bunga yang berlaku.

5. Perbedaan Bunga Sangat Penting

Bunga menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan calon pembeli.

Rumah subsidi melalui fasilitas FLPP menerapkan bunga cicilan flat 5 persen sampai lunas. Skema ini membuat besaran bunga tidak berubah selama masa cicilan sesuai ketentuan program.

Pada rumah komersil, bunga dapat menggunakan sistem floating rate yang mengikuti suku bunga acuan Bank Indonesia. Dalam kondisi tersebut, besaran cicilan dapat berubah.

Bank syariah juga menawarkan pembiayaan dengan skema flat berjenjang hingga lunas atau single price. Dalam bahan tersebut disebutkan, bunga pembiayaan ini biasanya berada di atas 10 persen, sehingga lebih tinggi dibandingkan bunga subsidi.

6. Spesifikasi Rumah

Rumah subsidi memiliki spesifikasi minimum yang sudah ditetapkan pemerintah.

Rumah komersil menawarkan spesifikasi yang lebih beragam. Pilihannya dapat mulai dari spesifikasi standar hingga rumah dengan kualitas premium.

Perbedaan spesifikasi ini membuat calon pembeli perlu menyesuaikan pilihan rumah dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.

7. Lokasi Rumah

Lokasi juga menjadi salah satu pembeda antara rumah subsidi dan rumah komersil.

Rumah subsidi umumnya berada di wilayah ujung atau pinggiran kota. Kondisi ini berkaitan dengan karakteristik pengembangan perumahan subsidi.

Rumah komersil cenderung tersedia di lokasi yang lebih strategis. Lokasi yang semakin strategis juga dapat memengaruhi harga rumah.

8. Aturan Renovasi

Calon pembeli rumah subsidi perlu memperhatikan ketentuan renovasi. Berdasarkan bahan tersebut, renovasi rumah subsidi baru dapat dilakukan minimal dua tahun sejak rumah ditempati.

Berbeda dengan rumah komersil. Pemilik dapat melakukan renovasi sesuai keinginan dan kebutuhan tanpa batas waktu tersebut.

9. Uang Muka atau DP

Rumah subsidi juga memiliki dukungan pembiayaan uang muka.

Untuk rumah subsidi dengan skema FLPP, terdapat bantuan sebesar Rp4 juta. Sementara pembiayaan P2BT mendapatkan bantuan uang muka hingga Rp40 juta.

Pada rumah komersil, uang muka lebih fleksibel dan perlu disiapkan sendiri oleh calon pembeli sesuai ketentuan pembiayaan yang dipilih.

Mana yang Lebih Menguntungkan?

Rumah subsidi dapat menjadi pilihan bagi calon pembeli yang memenuhi persyaratan program dan membutuhkan rumah dengan skema pembiayaan yang memiliki bunga subsidi.

Keuntungan lainnya terletak pada bunga FLPP yang flat 5 persen sampai lunas. Namun, calon pembeli harus mempertimbangkan batasan tipe, spesifikasi, lokasi, serta ketentuan renovasi.

Rumah komersil menawarkan pilihan yang lebih luas dari sisi tipe, spesifikasi, dan lokasi. Pemilik juga memiliki keleluasaan dalam melakukan renovasi.

Namun, pembeli rumah komersil perlu memperhitungkan cicilan dan perubahan bunga sesuai skema kredit yang digunakan.

Pada akhirnya, pilihan antara rumah subsidi atau rumah komersil perlu disesuaikan dengan kondisi finansial dan kebutuhan calon pembeli. Memahami perbedaan harga, bunga, cicilan, lokasi, spesifikasi, dan aturan renovasi dapat membantu calon pembeli menentukan rumah yang paling sesuai.

Tinggalkan ulasan

Aesthetics
General space
Value for money

Keep exploring...